RSS

“Makalah Pendidikan dan Pembelajaran di Sekolah dalam Menghadapi Tantangan Global”

15 Jun

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang Masalah

Globalisasi telah mempengaruhi berbagai tatanan kehidupan umat manusia saat ini. Oleh sebab itu, pengaruh globalisasi tidak bisa dihindari. Perlakuan yang paling arif adalah bagaimana pengaruh globalisasi, termasuk kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ini, disikapi sehingga membuahkan manfaat bagi umat manusia.

Isu-isu yang berkaitan dengan pendidikan nasional dan globalisasi mendorong kita untuk melakukan identifikasi dan mencari titik-titik simetris sehingga bisa mempertemukan dua hal yang tampaknya paradoksial, yaitu pendidikan Indonesia yang berimplikasi nasional dan global. Dampak globalisasi memaksa banyak negara meninjau kembali wawasan dan pemahaman mereka terhadap konsep bangsa, tidak saja karena faktor batas-batas teritorial geografis, tetapi juga aspek ketahanan kultural serta pilar-pilar utama lainnya yang menopang eksistensi mereka sebagai nation state yang tidak memiliki imunitas absolut terhadap intrusi globalisasi.

Globalisasi bisa dianggap sebagai penyebaran dan intensifikasi dari hubungan ekonomi, sosial, dan kultural yang menembus sekat-sekat geografis ruang dan waktu. Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan global, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.

Seperti kita ketahui bersama, bahwa problem dan tantangan pendidikan nasional dalam memasuki globalisasi harus dihadapi dengan pendekatan dan metode yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan tuntutan perubahan di masa depan. Fenomena yang terjadi pada dunia pendidikan di era global ini adalah selalu tertinggal jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi, informasi dan dunia bisnis.

  1. A.      Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan, dapat dirumuskan masalah-masalah yang akan dibahas pada makalah ini yaitu sebagai berikut:

  1. Apa pengaruh globalisasi dalam pendidikan di Indonesia?
  2. Bagaimana hubungan pendidikan dan jeratan arus globalisasi?

3.         Bagaimana dehumanisasi rasionalitas globalisasi?

4.         Apa visi pendidikan di era globalisasi?

5.         Bagaimana analisa para ahli mengenai pendidikan nasional  dalam globalisasi?

6.         Bagaimana pengembangan SDM Indonesia menghadapi globalisasi?

B.       Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:

1.      Mengetahui dan memahami bagaimana pendidikan dan pembelajaran dalam menghadapi tantangan global.

2.      Mengetahui pengaruh globalisai dalam pendidikan.

3.      Memahami visi pendidikan dalam globalisasi

4.      Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.      Pengaruh Globalisasi dalam Pendidikan

Dalam hembusan era globalisasi, gemanya tak hanya menerpa bidang ekonomi dan informasi/telekomunikasi saja, tetapi menyentuh hampir semua tatanan kehidupan umat manusia. Esensinya adalah bahwa kerja sama internasional antarnegara merupakan prasyarat dalam menata kehidupan global yang lebih baik. Globalisasi bukan berarti persaingan antarbangsa dalam arti sempit. Globalisasi bukan berarti persaingan antarbangsa dalam arti sempit. Globalisasi bukan pula penindasan si kuat kepada si lemah, tetapi lebih merupakan pranata baru antarbangsa yang berpijak pada semangat kebersamaan guna kehidupan masyarakat yang lebih baik. Di tengah pesimisme konflik kepentingan antarbangsa di beberapa bagian belahan dunia, ternyata globalisasi menjanjikan nuansa baru bagi kehidupan yang lebih arif dengan berlandaskan kebersamaan, saling menghormati, saling membutuhkan.

Naisbit dan Patricia (1990: 38-39, 244-245) merinci beberapa konsekuensi logis adanya globalisasi di bidang pendidikan ini antara lain:

Pertama, dalam globalisasi, sistem nilai dan filsafat merupakan posisi kunci dalam garapan pendidikan nasional. Semua negara menempatkan sistem nilai dan etika sebagai landasan utama dalam merancang kurikulum nasionalnya. Di Amerika Serikat misalnya, saat ini sekitar 5000 sekolah sudah mulai merintis mengajarkan filsafat untuk anak yang mula pertama dikembangkan oleh Mattew Lipman dengan Institute for the Advance of Philosophy for the Children. “Suatu hal yang tak mungkin mengembangkan pengetahuan tanpa sistem nilai”, dengan demikian dikatakan Nathan Quinones seorang konselor sekolah di New York.

Kedua, globalisasi menuntut adanya angkatan kerja yang berkualifikasi dan berpendidikan (skilled and educated). Dalam masyarakat informasi, lapangan kerja terutama dialamatkan pada mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang berlatar pendidikan yang memadai. Sebaliknya, mereka  yang miskin keterampilan dan tuna pendidikan, akan berderet mengisi barisan pengangguran atau sebagai kelompok pekerja dengan gaji yang sangat minim. Sebagai perbandingan, presentase pengangguran di Amerika Serikat untuk lulusan S1 atau lebih (graduate) hanyalah 1,7%. Untuk lulusan diploma atau akademi mencapai 3,7%, sedangkan lulusan sekolah menengah sebanyak 5,4%.

Ketiga, kerja sama pendidikan mutlak di perlukan. Kerja sama internasional di bidang pendidikan adalah sisi lain daripada konsekuensi globalisasi. Bantuan dana, pengiriman tenaga ahli, ataupun pemberian beasiswa dan pengiriman siswa tugas belajar ke luar negeri merupakan salah satu bentuk kerja sama internasional di bidang pendidikan. Di jepang misalnya, kendati angka partisipasi pendidikan cukup tinggi dengan proporsi lulusan di bidang sains tertinggi (mencapai 68% dari total lulusan yang ada), negara matahari terbit ini masih secara gencar melaksanakan kerja sama internasional di bidang pendidikan. Hal yang sama juga terjadi di Taiwan. Negeri Cina nasionalis ini, setiap tahunnya mengirim sekitar 7000 lulusan SMU untuk disekolahkan ke berbagai universitas di USA. Saat ini, di Taiwan terdapat angkatan kerja sekitar 100.000 lulusan USA, dan 10.000 orang di antaranya telah meraih gelar Doktor.

Ihwal globalisasi di bidang pendidikan ini sebenarnya telah dirintis badan dunia PBB semenjak dua dasawarsa yang lalu. Lewat “trilog pendidikan global” misalnya, badan dunia PBB di bidang pengembangan telah mencanangkan tiga kebutuhan mendesak bagi pendidikan global, terutama bagi negara berkembang, yaitu:

  1. demokrasi pendidikan,
  2. modernisasi pendidikan dengan menghormati identitas budaya, serta
  3. adaptasi pendidikan dengan tuntutan pekerjaan produktif searah dengan kebutuhan lapangan kerja.

Di bidang demokratisasi pendidikan, tercuat nilai hakiki tentang pendidikan itu sendiri bahwa melalui pendidikan yang ditempuh dimaksudkan untuk mendidik masyarakat menuju kemandirian, menuju ke suatu wujud pemerataan untuk memperoleh pendidikan seluas-luasnya. Pendidikan adalah universal dan hak semua orang atau lazim juga disebut sebagai education is universal and for all.

Modernisasi pendidikan mencakup antara lain keragaman alternatif dalam pelayanan pendidikan dan proses belajar-mengajar. Beberapa bentuk modernisasi pendidikan antara lain pendidikan jarak jauh, pendidikan dengan multimedia, cara belajar tuntas, atau dengan pendekatan nonkonvensional lainnya dalam bidang pendidikan. Semuanya bermuara sama ke arah globalisasi pendidikan, serta pemerataan perolehan pendidikan untuk semua orang tanpa rintangan atau hambatan, baik secara geografis, psikis, fisik, finansial maupun halangan yang sifatnya dukungan kultural.

Adaptasi pendidikan merupakan hakikat usaha ke arah menjembatani kesenjangan antara angkatan kerja yang dihasilkan lembaga pendidikan dengan lapangan kerja yang tersedia. Kesenjangan ini bisa bersifat kesenjangan okupasional, kesenjangan akademik, ataupun mungkin kesenjangan kultural/budaya, karena masyarakat belum siap secara kultur dalam mengantisipasi gejolak perkembangan yang ada.

B.       Hubungan antara Pendidikan dan Jeratan Arus Globalisasi

Pendidikan dimaknai oleh banyak pakar sebagai institusi untuk mendidikan generasi manusia dengan berbagai disiplin ilmu. Peradaban manusia juga tidak terlepas dari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia akan berubah menjadi maju atau bahkan mengalami kemunduran tergantung pada penguasaan pengetahuan. Dilihat dari aspek historis pendidikan di Indonesia adalah warisan kolonial belanda yang sampai sekarang watak pendidikan Indonesia masih tercerabut dari akar tradisi.

Untuk menata kembali butuh sistem pendidikan yang jelas, dan yang paling vital adalah bagaimana merumuskan paradigma. Belum lagi terkait dengan kebijakan pemerintah saat ini, kebijakan belum berpihak kepada masyakat yang belum mampu. Hegemoni negara tentu sangat bersinggungan dengan kebijakan pendidikan, sehingga kekuasaan dan pendidikan harus dipisahkan dari mata rantai kepentingan politik sesaat.

Kemajuan peradaban yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi berimplikasi pada moralitas manusia. Efek globalisasi misalnya telah merambah berbagai sektor kehidupan manusia, mulai dari alat komunikasi, transportasi, dunia maya, dan kecanggihan teknologi lainnya. Globalisasi telah berdampak pada mainstream bahwa manusia harus bisa mengendalikan teknologi.

Globalisasi ditandai dengan ketersinggungan antara negara, pasar atau sistem ekonomi global dan masyarakat sipil. Kalau diurai maka persoalan pendidikan Indonesia tidak hanya masalah penataan kurikulum, profesionalitas guru, out-put lembaga pendidikan, paradigma pendidikan, dan persoalan internal penyelenggaraan lembaga pendidikan lainnya. Tapi lebih dari itu ada faktor eksternal yang juga sangat berpengaruh pada pendidikan Indonesia yaitu persoalan rakyat miskin sehingga tidak mampu sekolah, disorientasi kebijakan pemerintah, pendidikan market oriented, relasi kekuasaan negara, dan pusaran arus globalisasi.

Rumusan paradigma pendidikan tentu jangan sampai lemah karena terseret arus globalisasi. Sehingga tidak mengorbankan nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan dengan memaksa out-put untuk diterjunkan ke dunia pasar kerja. Karena globalisasi tidak bisa dibendung maka sikap kita adalah harus berdapasi secara arif tanpa harus menolaknya. Kekuasaan negara yang berkolaborasi dengan kekuatan ekonomi global inilah yang menimbulkan dampak negatif dalam segala sektor negara termasuk dalam hal ini adalah dunia pendidikan.

C.    Dehumanisasi Rasionalitas Globalisasi

Manusia akan menjadi mekanistik karena harus menjalankan seluruh alat tehnologi. Teknologi tentu memudahkan kehidupan manusia tetapi dampak negatif yang timbul seringkali tidak sebanding dengan manfaatnya. Pusaran arus kapitalisme global yang bersumbu pada kekuatan pasar eropa tentu akan semakin mengendorkan kekuatan ekonomi negara-negara miskin dan berkembang. Berangkat dari refleksi tersebut kebijakan pendidikan harus kembali pada norma etik dengan beradaptasi atas fenomena global kekinian. Out put pendidikan harus memiliki moralitas tinggi, kepekaan sosial, menjunjung harkat dan martabat negara, dan ikut menentukan arah peradaban manusia.

Globalisasi merupakan suatu proses yang dinamis dari berbagai sektor dalam sejarah manusia. Aktor penting dalam proses ini terjadi pada akhir Perang Dunia II dengan lahirnya Brettonwood System, demikian pula muncul kerjasama bantuan internasional dalam bantuan sesudah perang dalam membangun kembali negara-negara yang hancur seperti eropa.  Di Eropa dikenal rancangan kembali dalam bentuk Marshal Plan oleh Amerika Serikat. Di negara-negara Asia terjadi perubahan dalam integrasi tata ekonomi kolonial ke tata sistem ekonomi industri. Keseluruhannya telah menimbulkan munculnya perdagangan global yang kemudian terikat dalam perjanjian-perjanjian multilateral, maka munculah lembaga-lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF). Demikian juga Bank Dunia yang merupakan sumber dana dari pembangunan internasional. Dengan demikian proses globalisasi terus merasuk dalam pelbagai bentuk kehidupan manusia, politik, ekonomi, sosial budaya dan pembangunan manusia (human development).

Tinjauan perspektif Kellner dari sudut pandang teori sosial kritis bahwa; globalisasi melibatkan pasar kapitalis dan seperangkat relasi sosial dan aliran komoditas, kapital, teknologi, ide-ide, bentuk-bentuk kultur dan penduduk yang melewati batas nasional via jaringan masyarakat global, transmutasi  teknologi dan kapital bekerjasama menciptakan dunia baru yang menglobal dan saling menghubung. Revolusi teknologi yang menghasilkan jaringan komunikasi komputer, transportasi dan pertukaran merupakan pra-anggaran (presupposition) dari ekonomi global, bersama dengan perluasan sistem pasar kapitalis dunia yang menarik lebih banyak area dunia dan ruang produksi, perdagangan dan konsumsi kedalam orbitnya.

Ketersinggungan globalisasi dengan sektor pendidikan telah mengakibatkan pergeseran paradigma. Ini terlihat dari mayoritas lembaga pendidikan berkompetisi menghasilkan out-put yang siap kerja (baca: berorientasi pasar) tentu cara pandang ini telah keluar dari nilai-nilai pendidikan. Kebutuhan pasar adalah tenaga kerja yang ahli atau mempunyai skill untuk mengoperasikan teknologi industri. Manusia menjadi mekanistik dan telah tercerabut dari harkat kemanusiaanya karena telah teralienasi, tereksploitasi dan terasing dari nilai-nilai humanisme.

D.      Visi Pendidikan di Era Globalisasi

Dalam sebuah penelitiah ilmiah Human Recource Development in the Globalization Era, Vision, Mission, and Programs of Action for Education and Training Toward 2020 H.A.R Tilaar, menjelaskan tentang program aksi menyeluruh dalam menghadapi gelombang globalisasi. Empat kekuatan yang perlu dicermati pendidikan nasional; 1) kerjasama regional dan internasional, 2) demokrasi dan peningkatan kesadaran HAM serta pemberdayaan masyarakat (social empowerment), 3) kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, 4) identitas bangsa dan internasionalisme.

Orientasi kebijakan negara yang mengendepankan ideologi developmentalisme telah menyeret masyarakat ke jurang kemiskinan, betapa tidak infrastruktur yang dibangun tentu hanya diperuntukkan bagi mereka yang kaya. Jarak (detachment) kelas sosial si kaya dan si miskin semakin jelas terlihat dari akses masyarakat kecil terhadap perlindungan hukum. Produk hukum hanya untuk melindungan pada pemegang modal. Implikasi pada dunia pendidikan adalah bahwa sekolah juga dijadikan ajang bisnis. Pendidikan semakin mahal dengan dalih fasilitas tehnologi canggih yang butuh modal hanya sebagai servis pendidikan.

E.       Analisa Para Ahli Mengenai Pendidikan Nasional  dalam Globalisasi

Ignas Kleden memberikan analisa kritis bahwa pendidikan nasional. Pertama, harus menciptakan masyarakat yang mempunyai kemampuan berfikir logis dan bertindak logis. Kedua, pendidikan humaniora harus dibedakan dari ilmu-ilmu humaiora dalam pengertian epistemologis, sehingga pendidikan humaniora menekankan kualitas-kualitas manusiawi dari peserta didik. Ketiga, pendidikan bukan hanya menciptakan orang dengan keahlian, tetapi orang-orang dengan kemampuan belajar tinggi.

Tanpa mengabaikan otoritas negara dan arus globalisasi yang terus menggerus kekuatan masyarakat sipil, sistem pendidikan Indonesia harus merobah fundamen paradigma pendidikan. Pertama, perlu penataan sistem pendidikan yang beradaptasi dengan kekuatan global. Kedua, penegakan supremasi hukum dan kedaulatan politik nasional demi menciptakan kondusifitas segala sektor kehidupan, demokrasi, agama, pendidikan, sosial, politik, ekonomi, budaya, hankam. Ketiga, paradigma pendidikan untuk semua kalangan—education for all—dan pendidikan sepanjang hidup—long life education—harus menjadi mainstream kebijakan pendidikan nasional. Keempat, di masa depan perlu memberi peranan yang seluas-luasnya kepada kaum wanita untuk mendapat kesempatan dalam pendidikan. Kelima, pentingnya media elektronik dalam penyebarluasan pendidikan, termasuk pengembangan sistem belajar jarak jauh dan pemanfaatan komputer untuk pendidikan. Keenam, publikasi dan penelitian serta pengembangan pendidikan merupakann hal yang sangat mendasar bagi setiap masyarakat yang ingin maju.

  1. F.        Pengembangan SDM Indonesia Menghadapi Globalisasi

Dalam kompetisi menghadapi globalisasi Sumber Daya Manusia memegang peranan yang sangat penting. Bila tidak siap maka manusia Indonesia akan tergilas oleh globalisasi. Akan tetapi bila siap, maka kita akan menjadi sang pemenang. Secara sederhana kita dapat mendefisikan sikap pemenang (winner) yaitu:

  • Adalah mereka yang berada didepan perubahan, terus-menerus meredifinisi bidang kegiatannya, menciptakan pasar baru, membuat trobosan baru, menemukan kembali cara-cara berkompetisi, menantang status quo.
  • Pimpinan yg mau mendesentralisasi kekuasaannya dan mendemokratisasikan strateginya dengan melibatkan berbagai orang baik yg ada di dalam maupun di luar organisasinya dalam proses menemukan kiat utk menghadapi masa depan

Untuk menghadapi globalisasi kita dapat menerapkan kiat 3C yaitu:

  • Competence,
  • Concept and
  • Connection

Dengan mengembangkan 3C diatas maka diharapkan akan terjadi peningkatan sumber daya manusia Indonesia menghadapi globalisasi.

BAB III

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Dari pembahasan makalah di atas, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

  • Globalisasi bukan berarti penindasan si kuat kepada si lemah, tetapi lebih merupakan pranata baru abtarbangsa yang berpijak pada semangat kebersamaan guna kehidupan masyarakat yang lebih baik.
  • Pendidikan bukan hanya berurusan dengan transmisi pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga dengan preferensi lain. Ini berarti bahwa pendidikan berhubungan erat dengan nilai-nilai, dan sebagian nilai-nilai itu adalah berkenaan dengan nasionalisme.
  • Tuntutan belajar semur hidup (life long education) merupakan suatu keharusan dalam kehidupan menghadapi globalisasi.
  • Pemanfaatan media elektronik dalam penyebarluasan pendidikan, termasuk pengembangan sistem belajar jarak jauh dan pemanfaatan komputer untuk pendidikan, merupakan aspek-aspek penting yang harus diperhatikan dalam globalisasi pendidikan.

B.       Saran

Penulis menyadari  bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca, agar penulis dapat memperbaiki pembuatan makalah di waktu yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Wahyudin, Dinn, 2006, Pengantar Pendidikan, Cetakan ke-17, Universitas Terbuka, Jakarta

http://endangkomarasblog.blogspot.com/2009/02/dinamika-pendidikan-dalam-menghadapi.html

http://kukuhsilautama.wordpress.com/2011/03/31/pendidikan-nasional-menghadapi-tantangan-global-2/

http://apehonk.wordpress.com/2011/01/17/kapitalisme-pendidikan/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 15, 2012 in Tugas Kuliah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Learning English Matters

It's about learning a little English every day

Learn British English

New material at http://www.learnbritishenglish.co.uk/ from April 2013

dianaramadhani

Just another WordPress.com site

feraasmarita2012

A topnotch WordPress.com site

Kate, Cracking Up

Cracked in All Ways Except the Illegal Ones

Badarudin | PGSD FKIP UM Purwokerto

Pendidikan Merancang Masa Depan

noviaanjani1593

Just another WordPress.com site

Feraasmarita's Blog

Just another WordPress.com weblog

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: